Pages

Coba Wordpress

Akhirnya, aku bisa punya blog sendiri, pake domain berbayar (he..he...).

Setelah punya beberapa blog dari blogspot, ini juga untuk pertama kali aku punya blog berbasis wordpress. jadi aku learning by doing saja. Ada beberapa hal yang rencananya akan kulakukan, yakni merubah theme dan membenahi blog. kayaknya aku harus googling nih, karena aku tau sangat banyak tutorial dari teman-teman soal blog wordpress..

Teroris itu Menjadi Selebriti...

Siapa warga Indonesia paling populer selang dua pekan terakhir? Saya yakin, Anda semua setuju. Sosok yang paling sering disebut-sebut oleh media massa tak lain Amrozi, Imam Samudra alias Abdul Aziz dan Mukhlas, yang hari ini, Minggu * November, telah dieksekusi.

Berita soal Amrozi cs bahkan hanya kalah oleh gempitanya pilpres di AS yang memunculkan Barack Obama. Dan setelah Obama menang, perhatian masyarakat (dan terutama media massa) kembali ke tiga terpidana mati itu.

Kenapa berita tentang Amrozi cs itu begitu menarik? Apa karena mereka akan dihukum mati? Ingat, mereka bukan terpidana mati pertama yang dieksekusi di negeri ini. Atau kah karena embel-embel teroris?

Tertundanya eksekusi hingga berkali-kali juga menambah kepopuleran mereka. Sejumlah stasiun televisi, media cetak bahkan portal berita terkemuka berlomba-lomba memberitakan spekulasi, analisis bahkan segala hal terkait ketiga teroris ini, termasuk memasukkan unsur 'human interest' dengan mewawancarai keluarga.

Saya yakin media massa punya pertimbangan sendiri soal liputan khusus (bahkan sangat khusus) terkait Amrozo cs itu. Namun hanya sedikit yang sadar kalau liputan itu telah membuat mereka menjadi selebriti. Ya, ketiga teroris itu menjadi selebriti yang kepopulerannya mengalahkan semua selebriti betulan.

Ini terlihat dari munculnya simpati masyarakat. Mereka dijuluki sebagai syuhada. Pemakaman mereka dipadati warga.

Tentu saja fenomena ini tidak salah. Kita tak bisa menyalahkan masyarakat yang ingin melayat.

Yang ingin saya ingatkan adalah, kemungkinan munculnya persepsi baru di masyarakat. Bahwa menjadi teroris, membunuh ratusan orang itu tidak sepenuhnya jelek. Toh kalau nanti dieksekusi mati akan diliput secara besar-besaran oleh media massa.

Mereka yang sejak lama punya obsesi menjadi 'orang top' atau orang terkenal, bukan tidak mungkin mengambil jalan ini.

Menjadi teroris, bisa dijadikan jalan pintas menuju ketenaran. Dan bisa saja mereka pikir, itu tidak terlalu buruk. Toh kalau pun ditembak mati, mereka otomatis masuk surga!!!

McCain Menang!!

John McCain menang? Bukankah calon presiden dari Partai Republik ini telah dikalahkan Barrack Obama dalam perebutan kursi kepresidenan Amerika Serikat?

McCain memang telah dikalahkan, bahkan dengan sangat telak. Namun saya mencatat dua hal yang membuat lelaki berusia 72 tahun ini layak disebut sebagai pemenang.

Pertama, hanya sekitar setengah jam setelah Obama dipastikan menang, McCain langsung mengucapkan selamat kepada (mantan) pesaingnya. Kalau mengingat bagaimana sengitnya kampanye, bagaimana McCain menebarkan kampanye negatif, maka mengucapkan selamat ketika pertarungan belum sepenuhnya berakhir merupakan hal yang luar biasa.

Kedua, ketika memberikan 'kata-kata perpisahan' kepada ribuan pendukungnya, McCain mengajak para pendukungnya untuk sepenuhnya mendukung Obama. Tak ada kata dan kalimat hasutan. Yang ada adalah ajakan untuk bersatu dan secara bersama mendukung pemerintah yang baru.

Mungkin, di Amerika, memberikan selamat kepada pesaing ketika pertarungan sudah memperlihatkan pemenang, merupakan hal yang biasa. Hal ini menjadi begitu menakjubkan jika dilihat dari sudut pandang Indonesia.

Di sini, kandidat yang kalah dalam pilkada, (baik kabupaten/kota maupun propinsi)  cenderung tidak bisa menerima kenyataan. Gugatan ke PTUN, menuding terjadinya permainan, kecurangan bahkan money politic, mewarnai proses pilkada.

Bukan cuma itu. Massa pendukung yang kalah melakukan aksi unjuk rasa, menyegel kantor KPUD, dan berbagai aksi brutal lainnya.

Sebagian dari kita mungkin tahu bagaimana reaksi salah satu mantan presiden, sekaligus mantan calon presiden, ketika kalah dalam pilpres. Dalam berbagai pertemuan ke konstituen, mantan presiden ini (dalam lakon plesetan Republik Mimpi disapa dengan Mbak Megakarti) berulang kali menyatakan dia tidak kalah dalam pilpres, namun hanya kalah suara!!

Bayangkan jika yang berujar ini adalah McCain. Yang mengatakan: Saya tidak dikalahkan Obama. Saya hanya kalah suara. Pasti McCain akan ditertawakan seluruh dunia.

Tapi mungkin itu yang membedakan McCain dengan (calon) pemimpin di Indonesia. Ketika banyak di antara pemimpin Indonesia tidak siap kalah, McCain dengan sportif mengaku kekalahan.

Saya menilai, McCain pantas disebut sebagai pemenang, justru karena dia berani menerima kekalahan!! (***)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...